Baby Don’t Cry Chapter 1

babydon'tcrycoverfix1

by : Deerchopper

Cast : Kris | Baekhae | Park Chanyeol | Park Junghee

Genre : Songfic, Drama, Romantic, Sad, Hurt, Fantasy

Disclaimer : FF ini murni dari pikiran thor sendiri. so, no plagiat, welcome to readers 😀 jika ada kesamaan dalam alur cerita, tokoh dsb itu hanya lah kebetulan semata, mungkin kita punya telepati yang sama sehingga pikiran kita selalu terhubung / sama hahahahaha

wihiiiii…. ff ini di post ulang yaaaa. maaf kepada kalian yang kemarin sudah membaca Chapter 1 dan Chapter kedua. Maafkan sayaaa >,< ah iya maaf jika ada kode HTML-nya yaaa thor juga nggak ngerti 😥

Let’s check this out!!!

            “hmm? Iya aku akan kesana akhir pekan ini…. Tidak… aku masih ingat jalannya… iya kau tenang saja. Cukup sediakan aku makanan yang banyak…. Hahaha…mmm… iya baiklah, sampai ketemu”

Kris. Cowok berumur 22 tahun itu baru saja selesai menghubungi seorang teman lama yang tidak ia jumpai selama 2 tahun belakangan ini, karena ia disibukkan dengan skripsi yang sedang ia buat.

Dari kejauhan terlihat seseorang berlari kearah Kris dan ternyata itu adalah Junghee. Dia adalah teman kecil Kris. Dia baru saja pindah ke Seoul setelah 2 tahun yang lalu menetap di Amerika.

“Kris oppa…. Liburan semester kan sudah datang, bagaimana jika akhir pekan ini kita kencan? Aku sudah menyiapkan ….” Tiba-tiba omongannya langsung dipotong oleh Kris.

“maaf,  Junghee. Aku sudah punya acara”

Kris pun meninggalkan Junghee sesudah ia melepas paksa gandengan tangan yang dilingkarkan oleh Junghee tadi. Junghee hanya melihat Kris dengan bibir manyunnya.

Sebenarnya Junghee sudah lama menyukai Kris akan tetapi Kris hanya mengganggap Junghee sebagi seorang adik kecil yang sangat ia sayangi. Yah… walaupun sikap Kris bisa dibilang agak dingin pada Junghee bahkan pada setiap wanita tapi ia sangat menyayangi Junghee dan menghargai wanita. ‘ an ice man who has a warm heart’

***

            Haaah… akhirnya akhir pekan datang juga. Setelah menyelesaikan skripsi yang begitu meguras tenaga dan pikiranku, kini sekarang aku bebas dan aku dapat bertemu sahabat lamaku, Chanyeol.

Aku memakai pakaian santai hanya dengan celana dark-blue ¾ dan kaos putih serta backpack yang ku gendong dibelakang juga kamera SLR yang kukalungkan di leherku, aku berjalan menelusuri jalan setapak yang menyuguhkan pemandangan indah.

Chanyeol, teman lamaku tinggal di Mokpo. Memang dia tinggal didaerah pedesaan yang dekat dengan bibir pantai. Dulu saat masih SMA aku sering kesini. Sekedar hanya untuk melepas stress karena aku sangat suka ketenangan.

Setelah aku berjalan selama ±1 jam akhirnya aku sampai dirumahnya. Ah… angin laut langsung menyapaku. Sejuk..

“Kriiissss!!!”

Ah… itu dia, Chanyeol. Dia melambaikan tangannya padaku dari jauh sambil memperlihatkan senyumnya yang…. Lebar. Itulah temanku, konyol tapi membuatku senang melihatnya karena ia selalu tersenyum.

Aku pun melambaikan tangan dan segera menghampirinya tapi ada sesuatu yang aneh. Lagi-lagi aku melihat sesuatu yang aku pernah lihat 2 tahun yang lalu. Saat aku terakhir kali ketempat ini. Ya… aku melihat cipratan air ditengah laut dan diakhir oleh sirip yang sebesar ukuran kaki manusia.

‘aneh… apa Chanyeol diikuti oleh hantu ikan tuna?’ batinku bergejolak.

***

Gila. Aku masih saja memperhatikannya. Mau bagaimana lagi? Aku tidak bisa menghentikan perasaanku ini walaupun kami berada di dunia yang berbeda.

Aku menelusuri perairan. Tempat tinggalku.

Yap. Mungkin ini seperti cerita-cerita di Disneyland dan cerita dongeng yang lainnya namun sebenarnya mahluk seperti kami benar-benar ada dan aku adalah seorang mermaid. Ya.. berbeda dengannya… berbeda…

“Baekhae, kau darimana saja?”

“ah… kakak… ahahaha… aku… itu… tadi… aku itu…. Dari….”

“pasti kau melihatnya lagi kan? Kau pergi ke permukaan kan?”

Aku terdiam karena tebakan kakak perempuanku tepat sasaran.

“maafkan aku kak, aku sudah memutuskan…”

Ya… aku telah memutuskan sebuah sesuatu hal yang sudah 2 tahun yang lalu aku pikirkan dan hari ini aku telah membulatkan tekadku itu.

“hahaha… kau jangan bercanda, baekhae” kakakku tidak percaya

“maaf….”

Secepat kilat aku pun pergi meninggalkan kakakku. Dia berusaha mengejar namun untunglah aku mempunyai sirip yang kuat sehingga aku lebih cepat berenang daripada kakakku yang sudah termakan usia itu.

‘maaf….’

***

setelah dikenyangkan oleh barbeque yang dibuat oleh Chanyeol, Aku pun berjalan-jalan disekitaran pantai yang jaraknya tidak begitu jauh dari kediamana Chanyeol. Untunglah aku sudah meletakkan barang-barangku sehingga kini aku hanya membawa kamera SLR-ku.

Aku pergi sendirian. Chanyeol sudah hafal sifatku. Dia akan membiarkanku pergi sendirian. Teman yang sangat pengertian.

Aku ingin memuaskan hasrat hobiku yaitu fotografi. Aku menyukai bidang ini sejak berada di bangku SMP tapi ini hanya hobi saja karena aku meyukai pemandangan yang menengakan hatiku.

Aku menelusuri bibir pantai. Aku bertelanjang kaki dan kubiarkan air laut mengenai kakiku. Pasir putih dan sunset yang kini sedang berlangsung kuabadikan dalam sebuah foto. Indah.

Aku pun memutuskan untuk duduk di pinggir pantai sambil melihat hasil fotoku tadi. Aku tersenyum puas melihat hasil jepretanku sesuai dengan harapan.

“ya… ini bisa aku pajang di galeri” gumamku.

Aku memang mempunyai studio galeri tapi galeri itu tidak terlalu luas. Aku membeli galeri itu dengan hasil jerih payahku sendiri. Aku tidak mau mebebankan hal yang sangat aku inginkan pada orangtuaku.

Setelah puas melihat foto-foto itu, aku pun beranjak dari tempatku dan segera kembali ke rumah Chanyeol untuk beristirahat karena sejak aku datang kesini aku belum mengistirahatkan tubuhku ini di kasur yang empuk bahkan sofa.

Sambil berjalan pulang, aku masih menikmati angin laut yang menerpa wajahku dengan lembut. Untunglah aku memakai mantel yang cukup besar unutk menutupi tubuhku yang besar ini karena hari ini adalah awal musim semi.

DUK!

Aku menghentikan langkahku ketika aku merasa telah menyenggol sesuatu. Aku menurunkan pandanganku yang tadinya aku sebar ke lautan.

“a..apa ini?”

Aku melebarkan mataku ketika aku mengetahui ‘apa’ yang aku sempat injak tadi. Ternyata ‘sesuatu’ itu adalah seorang manusia. Dia terpelungkup dan dia seorang wanita. Tubuhnya tidak ditutupi sehelai benang pun tapi beruntung tubuhnya ditutupi oleh rumput laut yang sangat banyak. Mungkin dia terseret ke tepi pantai ini bersamaan dengan tumbuhan laut itu.

‘apa dia korban kejahatan? Dia sudah meninggal ya?’

Aku agak ngeri melihatnya namun aku putuskan untuk memeriksanya terlebih dahulu. Aku memeriksa denyut nadinya dan untunglah… dia masih hidup. Aku pun segera menolongnya.

Aku membuka mantelku yang cukup besar dan aku menyelimuti tubuhnya. Mantelku sangat besar jadi untuk wanita sekecil ini pun pasti bisa untuk menutupi sleuruh tubuhnya.

Setelah berhasil menyelimutinya, aku pun menggendongnya di depan. Wajahnya sangat pucat. Mungkin dia sudah tertatih-tatih ditengah lautan selama berjam-jam maka dari itu aku pun melesat lari ke rumah Chanyeol.

Setelah beberapa menit berlari, akhirnya aku pun sampai dirumah Chanyeol. Aku membuka pintu depan dan ternyata, Bingo… pintu itu terkunci.

“lho kok terkunci? Yaampun dia keluar rumah tanpa bilang padaku dan seenaknya mengunci pintu? Dasar idiot!”

Aku pun berusaha membuka pintu itu dengan keras namun tak kunjung terbuka juga.

“kunci cadangan kutaruh didekat tanaman hias depan pintu”

“dasar Kris bodoh!!!”

Aku pun baru menyadari bahwa Chanyeol sudah mewanti-wanti jika kunci cadangan ada di tanaman.

Aku pun bergegas mengambil kunci tersebut. Kuputar kunci itu di lubang pintu dan blam!!! Aku menendang pintu itu karena tanganku masih digunakan untuk menopang gadis yang sedang berjuang melawan kedinginan.

Aku letakkan tubuhnya diatas sofa, aku segera membawakannya pemanas ruangan, kantung pemanas untuk menghangatkan dan beberapa buah selimut. Aku tidak berani menyentuhnya karena aku tidak bisa melihat wanita yang sedang berbaring lemah di hadapanku ini.

***

“tenang saja, aku tidak akan mengambil suaramu, tapi……”

“HAAAAAHHH??!!!”

Wanita itu terbangun dari mimpinya yang panjang. Napasnya tersengal-sengal, mengeluarkan keringat dingin.

Dia menyebar pandangan matanya ke seluruh penjuru mata angin. Dia kebingungan ketika melihat ada seseorang yang sedang tertidur di sofa seberang.

Akhirnya dia turun dari tempat pembaringannya sambil masih memegang mantel yang tiba-tiba saja dia rasakan menempel ditubuhnya.

“maaf….”

Gadis itu mencolek-colek bahu Kris berusaha untuk meminta penjelasan.

Akhirnya yang dibangunkan terbangun juga. Kris pun mengerjap-ngerjapkan matanya untuk beberapa saat dan saat dia melihat yang tadia ia bawa sudah siuman ia langusung bangkit dengan cepat dari ‘tempat tidurnya’

“kau sudah siuman?”

“iya… maaf…. Aku kenapa bisa ada disini?”

“tadi aku menemukanmu terdampar di tepi pantai, jadi aku bawa kesini”

Matanya menerawang. Dia terdiam sebentar lalu menatap Kris kembali.

Kris melihat wanita itu. Dia masih menegnakan mantelnya. Hanya sepotong mantel yang menutupi seluruh tubuhnya tidak akan memberi kehangatan yang cukup untuk wanita itu.

Kris pun berjalan kearah kamar, mengambil beberapa potong baju dan memberikannya pada gadis itu.

“ini, pakailah setidaknya pakaianku bisa dipakai sementara.”

“te…terima kasih”

Dia pun mengganti pakaiannya di kamar Kris dengan Kris yang masih menunggu diluar. Beberapa saat kemudian gadis itu pun keluar.

“hmph…” Kris mengatupkan mulutnya berusaha unutk menahan tawanya.

Bagaimana tidak? Gadis kecil dan mungil itu telah memakai pakaian seorang pria yang tingginya lebih dari 180cm. gadis itu bagaikan ditenggelamkan oleh sebuah baju. Bahkan kerah baju yang ia pakai telah melorot dan memperlihatkan segaris bahunya.

“ma…maaf”

‘yaampun… anak ini polos sekali’

“kenapa meminta maaf? Hihihi… ini pakailah ini. Tutuplah bagian bahumu”

Kris memberikan cardigan biru dongkernya dan melingkarkannya dia bahu gadis itu.

“ah… terima kasih banyak atas bantuanmu…” katanya tersenyum

“oh iya namamu siapa?”

“aku? Aku… Baekhae”

“ah… Baekhae…  nama keluargamu siapa?”

“mmm… Han?”

Sebenarnya Baekhae asal menyebut nama keluarganya sebagai Han padahal dia tidak mempunyai nama keluarga. Hanya Baekhae saja.

“aaaa… Han Baekhae. aku Kris. Jadi,kenapa kau bisa sampai terdampar? Apa kau punya keluarga? Aku akan mengantarmu pulang.”

Baekhae terlihat kebingungan. Membuatnya terdiam dan hanya menatap Kris dengan kerutan yang ada di wajahnya. Kris pun menyadari hal tersebut.

“ah maaf… baiklah…Kenapa kau bisa dalam kondisi seperti tadi?”

Baekhae terdiam.

‘dia pasti tidak akan percaya tentang siapa aku sebenarnya. Ya… aku harus berkelak’

“aku tidak ingat… aku hanya mengingat namaku saja. Maaf…”

Kris terkejut mendengar penjelasan dari Baekhae tapi pada akhirnya dia tersenyum karena tak tega melihat gadis secantik itu kini sendirian.

“baiklah… sekarang kau adalah tanggung jawabku karena aku yang menemukanmu. Kau tinggallah disini untuk beberapa waktu hingga kau mendapatkan kembali ingatanmu”

“maaf… aku tidak bisa…. Maafkan aku.”

Baekhae langsung beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke pintu keluar. Kris pun segera menarik tangan Baekhae.

“tenang saja, aku tidak akan mengganggumu”

“bukan begitu, aku tidak mau merepotkanmu”

Kris terkekeh. ‘yaampun dia bodoh sekali’. Kris tidak merasa direpotkan.

“hei, jika kau pergi, kau malah makin merepotkanku. Jadi, pilih yang mana?”

Baekhae terdiam. Tiba- tiba dia berbalik dan membungkuk pada Kris.

“terima kasih banyak, Kris” ‘dan… maafkan aku telah membohongi pria sebaikmu’ batin Baekhae

Kris hanya mengangkat kedua alisnya dan tersenyum. ‘anak bodoh’

***

“Krisssss…. Maaf yaaa tadi…. Lho?”

Chanyeol baru pulang entah darimana. Dia membawa sekatung buah-buahan. Mungkin dari supermarket. Dia terlihat terkejut ketika melihat Kris bersama wanita yang tidak ia kenal. Wanita itu pun begitu lusuh.

Baekhae menoleh. Tak disangka orang yang menjadi alasannya unutk melakukan semua ini kini berada dihadapannya. Wajahnya berubah menjadi merah. Dia gemetar.

“Chanyeol. Ah iya… ini Baekhae”

Mereka duduk diruang tengah, mendiskusikan apa yang telah terjadi. Kris pun menjelaskan semuanya. Dia meminta izin pada Chanyeol untuk memperbolehkan Baekhae tinggal di rumahnya.

“ah benarkah? Aku turut menyesal apa yang terjadi denganmu, Baekhae. Kau boleh tinggal disini, anggaplah ini rumahmu sendiri.” Kata Cahnyeol tersenyum memandang Baekhae

‘bagaimana ini? Aku sangat bahagia’ batin Baekhae

“Baekhae, kau bisa memakai kamar itu ya” kata Chanyeol sambil menunjuk ke satu arah.

“i…iya terima kasih”

Baekhae pun bangkit dari tempat duduknya namun tiba-tiba kesimbangannya hilang tapi unutnglah Chanyeol berada disana.

Bruk!

“kau tidak apa?”

Baekhae yang notabene adalah sang penggemar rahasia ‘bodoh’ itu pun langsung memasang tampang canggungnya. Dia langsung membuang muka ketika Chanyeol menatap kearahnya.

“i….iya… ma… maaf”

Chanyeol mengerutkan alisnya. ‘apa dia tidak suka padaku ya? Apa tampangku ini seperti penjahat?’ batin Chanyeol

“Kris, bisakah kau membuatkannya secangkir  teh, dia harus banyak istirahat”

“baiklah”

Kris pun langsung menuju dapur. Chanyeol menopang tubuh Baekhae dan mengantarkannya menuju kamar.

Chanyeol membaringkan tubuh Baekhae di kasur dan menyelimuti seluruh tubuhnya. Chanyeol duduk dipinggiran tempat tidur. Mereka berdua terdiam terjebak diantara jarak yang jauh namun dekat. Suasana canggung memenuhi ruangan yang lumayan luas itu. Tiba-tiba Kris datang dan memecah semuanya.

“Baekhae, ini… minumlah ini agar tubuhmu tambah hangat”

“terima kasih”

***

Pagi hari telah tiba. Matahari muncul di ufuk timur.

“sudah pagi ya?” gumam Baekhae.

Dia sedang berada dibalkon. Menatap lurus kearah laut sambil menopang dagunya. Menatap. Terus dan terus. ‘aku berada jauh dari rumah’ batinnya.

“mmmm…… lho? Baekhae, kau sedang apa?”

Baekhae menoleh, dia tahu betul itu suara siapa.

“ah.. cha.. Chanyeol… a… aku sedang tidak melakukan apa-apa”

Chanyeol tidake beraksi apapun dengan jawaban Baekhae, dia hanya duduk di bangku balkon dan terdiam. Baekhae hanya melihat Chanyeol dengan tatapan bingung.

“Baekhae…”

“ya?”

“apa kau membenciku? Kau tak suka ya denganku?” kata Chanyeol mengangkat wajahnya dan tersenyum paksa pada Baekhae.

“apa maksudmu?” kata Baekhae khawatir.

Chanyeol pun yang tadinya dudk kini beranjak dan berada disebelah Baekhae.

“kemarin ketika kau melihatku kau gemetar lalu saat aku menopang tubuhmu kau membuang mukamu kemudian sepertinya ketika aku bersamamu, kau merasa tidak nyaman”

Baekhae tercengang mendengar penjelasan dari Chanyeol. Dia panik. Tanpa sadar, Baekhae pun langsung menyergap tangan Chanyeol.

“tidak! Itu bukan seperti yang kau kira. Aku hanya gugup berdekatan denganmu. Aku menyukaimu kok!”

Bam! Baekhae kelepasan berbicara, dia langsung menutup mulutnya dengan keras sambil membelalakkan matanya.

“ma…maaf…”

Chanyeol pun begitu, dia juga terkejut dan membuka lebar matanya yang sudah besar itu. Tapi beberapa saat kemudian mata yang tadianya menegang kini terlihat begitu hangat memandang kearah Baekhae.

“hahaha syukurlah… mulai sekarang tidak ada lagi kecanggungan diantara kita ya, janji?” kata Chanyeol tersenyum sambil mengacungkan jari kelingkingnya pada Baekhae.

Baekhae masih terkesan dengan pangeran hatinya itu. Omongan Cahnyeol barusan memberikan kemajuan pada hubungan mereka. Chanyeol tidak memberi jarak padanya. Semua kecemasan, ketakutan dan rasa malu Baekhae hilang entah kemana ketika Chanyeol berbicara padanya bagaikan bicara dengan teman yang sudah ia kenal lama.

“i..iya…” kata Baekhae sambil melingkarkan jari kelingkingnya pada kelingking Chanyeol

“hahaha… masih gugup yaaa” kata Chanyeol sambil memegang puncuk kepala Baekhae.

Chanyeol tertawa dengan senyuman yang indah diiring dengan sinar matahari yang makin meninggi membuat mata sang gadis yang berada didepannya berbinar-binar.

***

“Baekhae…..”

Chanyeol menyergap tubuh Baekhae dari belakang. Dia menaruh lengannya pada bahu Baekhae ketika Baekhae sedang menyiapkan makanan didapur untuk sarapan mereka bertiga –Baekhae, Chanyeol dan Kris-

“kau butuh bantuan tidak?”

“memangnya kau bisa apa hah?”

“wah… kau mau kuusir ya?” kata Chanyeol bercanda.

Tiba-tiba Baekhae terdiam dan menghentikan aktivitasnya. Dia menunduk membuat Chanyeol merasa bersalah mengatakan hal itu.

“Baekhae… aku tidak…”

Plash!

Baekhae mencipratkan air keran di westafel ke wajah Chanyeol membuat sang empunya wajah itu menjadi kaget.

“ya! Apa yang kau lakukan. Kau mau menantangku ya?”

“hahaha… coba sini, tangkap aku kalau kau bisa. Weeekkk…” kata Baekhae sambil menjulurkan lidahnya kepada Chanyeol dan memberi jarak diantara mereka.

Krisa pun baru datang dengan: mata segaris, rambut dan wajah berantakan, kaos putih polos, celana ¾, berjalan seperti seorang yang mabuk, dan menggaruk-garuk rambutnya.

Bruk! Kris pun diterjang oleh Baekhae yang sedang dikejar-kejar oleh Chanyeol. Baekhae bersembunyi dari kejaran si orang idiot itu dengan bersembunyi di balik tembok cina.

Kris yang tadi nyawanya masih entah kemana kini kembali ke tubuhnya ketika 2 orang anak kecil itu mendorong-dorong tubuh Kris.

“eh, ada apa ini? Kalian sedang apa hah?”

“aaaa… Kris, tolong aku. Aku dikejar oleh orang gila itu hahahaha…”

“apa kau bilang? Orang gila??? Wah… aku pasti akan memakanmu”

Chanyeol terus terusan berusaha mennagkap Baekhae namun ditutupi oleh Kris dan beberapa saat kemudian Chanyeol pun berhasil mendapatkan mangsanya. Baekhae ditarik keluar dari persembunyiannya yaitu dibalik tubuh Kris.

“hahaha… dapat kau” kata Chanyeol sambil melingkarkan tangannya di leher Baekhae.

“aaa… tidak! Ini semua gara-gara kau Kris, aku jadi tertangkap oleh orang gila ini, dasar tiang listrik!” kata Baehae sambil melirik Kris.

“apa kau bilang?! Mau mati ya!” kata Kris jengkel.

Akhirnya Baekhae yang mungil itu kini dihimpit oleh 2 menara tinggi. Mereka tertawa, tersenyum bersama. Bermain bersama.

‘Tuhan, terima kasih’ batin Baekhae

***

“yaampun, Chanyeol dan Baekhae duduk kalian disini!”

Baekhae dan Cahnyeol pun duduk di ruang makan sedangkan Kris sedang manutkan kedua tangannya.

“kalian lihat kan? Kekacauan?”

Kris menunjuk kesatu arah. Benar. Karena mereka tadi bercanda dan bermain terlalu bersemangat membuat bahan-bahan yang tadi sudah disiapkan Baekhae menjadi beratakan bagaikan bangkai kapal yang karam ditengah laut.

“kalian ini, aku baru bangun tidur sudah langsung saja disergap oleh kalian”

“tapi pada akhirnya kau kan juga ikutan Kris”

“iya itu benar!” kata Baekhae sambil mengankat tangannya, menyetujui apa yang dikatakan Chanyeol.

“aeshh… kalian berdua sudah sekongkolan ya?” kata Kris sambil menghentakkan kedua tangannya pada kepala Chanyeol dan Baekhae secara bersamaan.

“hahahaha…” Chanyeol dan Baekhae cekikikan sambil high five kecil-kecilan.

“nah, karena kita belum sarapan. Bagaimana jika Chanyeol mentraktir kita?” kata Kris meledek.

“setujuuuuuuu….”

Baekhae langsung beranjak dari tempat duduknya dan kini berpihak pada Kris.

“ya! Kau… kenapa kau berkhianat”

“hahaha… maaf saja ya… perutku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi”

Akhirnya mereka bertiga pun segera bersiap-siap. Kris dan Cahnyeol sudah bersiap-siap dan memanaskan mobil.

“ayo kita berangkaaaaaaattt….woohoooo” Kata Baekhae sambil menuruni tangga depan rumah.

“yaampun… Kris… lihat… aku tidak tega melihat gadis seperti Baekhae seperti itu… aduh… mataku sakit”

“benar, ayo kita permak dia…”

Kenapa? Ketika melihat panampilan Baekhae mengenakan baju yang… tidak selayaknya dipakai wanita semanis dia yaitu baju yang dipinjamkan Kris kemarin, dia pakai dengan celana jeans kebesaran.

Mereka pun berangkat dengan Kris yang meyetir mobil. Sepanjang jalan Baekhae terus terkagum-kagum oleh sekitarnya dan terus bertanya kepada Chanyeol dan Kris ini apa itu apa. Membuat kedua lelaki itu terkekeh melihat tingah laku seorang gadis yang seperti anak umur 5 tahun.

“nah sudah sampai” kata Kris

“lho? Mana restorannya? Ini kan toko baju”

“kau kira aku mau mengajakmu ke restoran dengan penampilanmu yang seperti preman itu?” celetuk

“ish jahat!”

Kris dan Chanyeol pun memilihkan baju yang sesuai dengan image yang terpancar dari Baekhae dan Baekhae pun hanya mengikuti langkah kaki mereka.

“coba ini…” kata chanyeol memberikan sepotong dress santai berwarna pink muda pada Baekhae

Baekhae pun hanya memiringkan kepalanya sambil mengangkat baju itu dan sepertinya Kris setuju dengan pilihan Chanyeol. Kris pun mendorong Baekhae ke ruang ganti dan memberikannya topi anyaman dari bambu berwarna aprikot dengan ada sebuah pita di sekeliling topi itu.

Beberapa saat kemudian Baekhae keluar dari kamar ganti. Dia terlihat sangat malu-malu keluar dari kamar ganti itu. Wajahnya memerah dan deretan giginya bergetar.

“hei, a..apa yang kalian lakukan padaku?” kata Baekhae sambil memegangi ujung dress tersebut karena menurutnya dresss itu terlalu pendek.

Kris dan Cahnyeol hanya ternganga melihat itu terutama Kris baru kali ini dia mengeluarkan ekspresi yang… berlebihan pada seorang gadis. Chanyeol saja hanya tersenyum melongo melihat Baekhae yang sangat manis itu.

“wah… Baekhae kau benar-benar manis ya, aku tidak menyangkanya” kata Cahnyeol meledek

“jangan ganggu aku!” kata Baekhae menghampiri mereka.

“mmm… ta…tapi terima kasih ya?” lanjut Baekhae sambil menutupi rasa malunya.

‘yaampun… dia terlalu manis’ batin Chanyeol dan Kris

Hari itu mereka bertiga habiskan bersama. Baekhae tidak menyangaka jikalau ia akan sendirian dan tidak tahu akan bagaimana nantinya ternyata kini terdapat 2 orang yang sangat penting baginya.

***

‘oppa,a ku akan datang malam ini. Tunggu aku ya… aku sangat merindukanmu >.<’

Kini aku sedang melihat sms darinya. Aku hanya tersenyum dan tertawa kecil. Dia akan datang. Bagaimana ya?

Aku menungggunya dihalte. Sudah 2 jam berlalu dan dia tak kunjung datang juga. Memang aku 1 jam lebih cepat menunggunya karena aku sangat ingin bertemu dengan dia setelah 2 tahun berlalu. Aku sangat merindukannya. Ya…

Brum!!!

“Chanyeol oppa…”

“Junghee…”

Ya… orang yang sedaritadi kutunggu adalah Junghee, adikku. Dia langsung menerobos memelukku. Kubalas pelukannya.

“oppa… bagaimana kabarmu? Yaampun aku sangat merindukanmu”

Aku tersenyum melihatnya tersenyum dan tertawa. Adik yang sangat kusayangi.

“oppa, baik-baik saja. Ah… pasti berat. Sini oppa bawakan”

“tidak usah, aku bukan anak kecil oppa” katanya sambil memayunkan bibirnya yang tipis itu.

“hiiii… dasar adik manis” aku menucit pipinya yang gembul itu.

“baiklah,ayo kerumah… tapi maaf ya teman lamaku sedang datang berkunjung”

“ah… benarkah? Wah… aku akan dapat teman baru”

Begitulah Junghee. Memang sifatnya kekanak-kanakan namun ada sesuatu didalam dirinya yang jika aku melihatnya sedang tertawa atau bersemangat seperti itu aku menjadi bersemangat kembali dan aku senang melihat semua itu.

To Be Continued…

ah iya maaf ya jika ada kode HTML-nya thor nggak ngerti deh tuh -,-

maaf juga karena suda re-post ff ini but i hope you enjoy it 🙂

see you tomorrow 😀

Leave Comment yaaa

Iklan

About deerchopper

No matter what happen.... EXO is EXO! support EXO and Mr. crazy galaxy, Wuyifan ㅋㅋㅋㅋㅋㅋㅋ

Posted on Desember 24, 2013, in chapter, EXO, Fanfiction and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: